1.300 Lebih Keluarga Mojokerto Tak Punya Sarana MCK Sehat

19/11/2015

Toilet! Ah, seberapa pengtingnya sih? Begitu mungkin ungkapan bagi kebanyakan orang. Tapi, di banyak tempat, kakus bersih dan sehat adalah barang wah.

Merujuk data Habitat for Humanity sebanyak 2,4 juta warga dunia buang hajat, mandi, dan cuci di sembarang tempat: hutan, ladang atau tanah kosong terbuka lainnya. Nah, keadaan itu juga menimpa 45 persen dari 3.000 keluarga di Desa Mojorejo dan Bendung, Mojokerto, Jawa Timur.

Kemiskinan adalah sumbunya. Sebanyak 1.350 keluarga di Desa Mojorejo dan Bendung, memang tergolong keluarga prasejahtera. Pendapatan mereka tak lebih dari Rp20.600 per hari. Walhasil, jangankan memikirkan kakus sehat dan bersih, buat menutupi kehidupan primer saja mereka kerepotan.

Bahkan 65 persen dari 1.350 keluarga itu bisa sama sekali tak punya toilet. Untuk buang hajat, mereka

menggunakan `WC jemblung` dan `bul` di tengah hutan jati. Persoalannya, kalau hujan datang, WC jemblung dan bul jadi sulit dijangkau.

Branch Manager Surabaya Habitat for Humanity Indonesia Andri Gunawan, bertepatan dengan Hari Toilet Se-Dunia yang jatuh saban 19 November, mengatakan, bantuan akses air bersih, peningkatan kualitas sanitasi serta pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi sangat berarti dalam perbaikan kualitas hidup mereka.

Nah, sejak 2014, Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan Monsanto Indonesia coba meningkatkan kualitas hidup masyarakat Mojokerto, lewat program Water Access Sanitation and Hygiene (WASH).  Melalui program ini, warga mendapatkan sarana dan prasarana MCK, saluran air bersih, perbaikan rumah, perbaikan sekolah, pembangunan klinik desa, penyediaan alat pertanian, serta berbagai pelatihan dan pendidikan. “Dengan bantuan sanitasi sederhana, kita harap dapat membantu memastikan kesehatan mendasar sebagai hak setiap manusia dalam rangka mencapai masa depan yang lebih cerah,” kata Corporate Engagement Lead – Monsanto Indonesia Herry Kristanto.

Program WASH berjangka waktu 3 tahun. Targetnya; Pertama, 100 keluarga mendapatkan sarana dan prasarana MCK yang sehat; Kedua, 300 keluarga mendapatkan akses saluran air bersih; Ketiga, 200 keluarga prasejahtera mendapatkan rumah layak; Keempat, dua sekolah direnovasi agar anak-anak dapat belajar dalam sebuah lingkungan yang kondusif; Kelima, membangun satu klinik desa; Keenam, membangun tiga biogas unit untuk pengelolaan limbah ternak. Ketujuh, petani mendapatkan peralatan bertani; dan terakhir, pendidikan pengelolaan dan pembangunan rumah sehat, pelatihan pertanian berkelanjutan, edukasi finansial, tata kelola dan antisipasi resiko banjir serta longsor.